Halo teman-teman TJoG!
Apa kabar semua? Menurut kalian, perlu gk si paham sehat mental?
Ada yang bilang, isu dan gangguan kesehatan mental hanya terjadi pada orang dewasa aja. Yang udah mulai mabok skripsi, kerja, quarter life crisis, dll. Padahal, isu kesehatan mental dapat terjadi pada siapa aja, bisa kena anak dan remaja juga.
Masa remaja (10-19 tahun) menurut WHO merupakan waktu penting untuk mengembangkan kemampuan mengelola emosi dan bersosialisasi. Perkembangan diri seseorang sejak remaja tentu akan memengaruhi psychological well-being kita saat sudah mencapai dewasa. Rata-rata seseorang mulai mengalami peningkatan faktor kesehatan mental sejak 14 tahun. Salah satu faktornya yaitu toxic friends. Ngeri banget bukan?
Masa remaja (10-19 tahun) menurut WHO merupakan waktu penting untuk mengembangkan kemampuan mengelola emosi dan bersosialisasi. Perkembangan diri seseorang sejak remaja tentu akan memengaruhi psychological well-being kita saat sudah mencapai dewasa. Rata-rata seseorang mulai mengalami peningkatan faktor kesehatan mental sejak 14 tahun. Salah satu faktornya yaitu toxic friends. Ngeri banget bukan?
Nah, gue mau berbagi sedikit referensi nih yang berhubungan dengan psychological well-being.
Langsung aja deh yuk, ber...bagi... cerita👀
Journal Article
The Effect of Toxic Relationships in Friendship on the Psychological Well-Being of Islamic University Students
About Journal :
|
Judul Artikel |
The Effect of Toxic
Relationship in Friendship on the Psychological Well-Being of Islamic
University Students |
|
Nama Jurnal |
TAZKIYA (Jurnal of
Psychology) |
|
Nama Penulis |
Siti Rahimah, Muhammad
Zainal Abidin, Mahdia Fadhila |
|
Volume dan Halaman |
Volume 10 (2) dan 156-164 |
|
Tahun Terbit |
2022 |
|
DOI |
|
|
URL |
https://journal.uinjkt.ac.id/index.php/tazkiya/article/view/27776/pdf
|
|
Kategori Jurnal |
Accredited SINTA 2 |
Kenapa harus baca?
Pada artikel ini, dibahas mengenai psychological well-being pada mahasiswa. Dimana mahasiswa seperti kita ini merupakan masa transisi antara remaja menuju dewasa yang memiliki tingkat psychological well-being lebih rendah dibandingkan dengan orang yang lebih tua. Selain itu, mahasiswa juga membawa status baru bagi dirinya yang diharapkan menjadi agen perubahan. Dimana, menurut Jannah & Sulianti (2021) beban dan tanggungjawab mahasiswa tidak hanya sebatas menjalankan tugas dan kewajiban saja, tetapi juga sebagai agen perubahan bagi bangsa Indonesia. Mahasiswa biasanya akan menghabiskan waktu bersama dengan teman sebayanya. Kondisi teman
yang baik akan membawa pengaruh yang baik pula bagi
mental mahasiswa, sebaliknya teman yang kurang baik membawa
pengaruh negatif kepada sikap dan kepribadian mahasiswa. Kenapa begitu?
Mahasiswa dalam lingkup teman sebaya memiliki rasa nyaman akibat interaksi yang dilakukan untuk menghabiskan waktu bersama berupa dukungan-dukungan. Dimana, terkadang dukungan tersebut menjadi ancaman tersendiri karena akan mendapatkan pengaruh yang lebih besar daripada yang lain atau tidak adanya ruang bagi dirinya untuk mempertahankan kapasitas dan takdirnya, bahkan tidak adanya keuntungan timbal balik. Atau bisa disebut dengan toxic relationship. Apa itu toxic relationship? adalah hubungan yang tidak sehat dan merugikan, bahkan menimbulkan emosi negatif yang tidak dapat dikendalikan. Hal tersebut mampu membawa individu pada kesehatan mental yang buruk, karena merasa tertekan dan terdapat penghalang untuk dapat hidup produktif, sehat, dan bahagia. Tingkat emosi negatif sulit untuk diidentifikasi, namun dampaknya akan mempengaruhi tingkat psychological well-being seseorang akan jauh lebih rendah. Kita bisa lihat, seberapa banyak disekitar kita yang masih terjebak dalam toxic relationship dengan teman sebaya.
Dibahas pula terkait ayat bahwa persahabatan pada hakikatnya adalah simboiosis mutualisme dan menekankan poin pertemanan positif dan pertumbuhan diri untuk psychological well-being pada mahasiswa. Tingkat psychological well-being dikatakan baik ketika mahasiswa mampu kembali fokus pada tujuan hidupnya, ketika menghadapi masalah dalam lingkungan pertemanan. Dan kembali lagi kepada individu itu masing-masing.
Melihat artikel tersebut, dapat disimpulkan bahwa "Jangan takut untuk keluar dari zona toxic friends, dirimu berhak bahagia, kesehatan mentalmu lebih berharga!"
Sekian, ulasan singkat mengenai artikel "The Effect of Toxic Relationship in Friendship on the Psychological Well-Being of Islamic University Students". Semoogaaaa dapat bermanfaat untuk kalian ya!
Sampai ketemu dipostingan berikutnya, ya! 🎨🍳🧘♀️
With love,
Raharry

12 Comments
byebye teman yang toxic! reviewnya bagus top
ReplyDeleteManfaat bngt nih guys tambah ilmu dan pengetahun.....
ReplyDeleteArtikel nya membahas hal yang related bgt nih sama kehidupan sehari-hari kereeen bagett ka
ReplyDeleteteman sedikit yang penting ga toxic, kerennnn artikelnya!
ReplyDeleteKerennn, semangat terus nulis artikelnya kak ❣️
ReplyDeleteBermanfaat bangett lingkungan pertemanan emang ngaruh buat 'jalan hidup' ya, makasiih
ReplyDeleteyap. just cut them off guyss
ReplyDeleteArtikelnya bagus, jadi sadar kalo punya teman dikit lebih okey daripada punya banyak teman tapi toxic
ReplyDeletepenjelasan dr artikel jurnalnya bagus bgttt ka mudah buat dipahami dan beneer bgtt segala sesuatu yang toxic emang harus dihindari apalagi dalam pertemanan
ReplyDeleteJadi tau apa itu toxic alhamdulillah nambah ilmu baru
ReplyDeleteWiii bagus banget ka, pembahasannya mudah dipahami. Terima kasih ilmu barunya kaaa
ReplyDeletewihhh terima kasih atas infonyaa
ReplyDelete